Dalam perkembangan regulasi yang signifikan, Otoritas Keamanan dan Standar Pangan India (FSSAI) telah menyetujui penggunaan polietilen tereftalat daur ulang (rPET) dalam kemasan makanan. Diterbitkan dalam Lembaran Negara pada 28 Maret 2025, langkah ini mencerminkan upaya yang matang untuk mengurangi limbah plastik sekaligus menjaga keamanan pangan – sebuah keseimbangan yang telah lama diperdebatkan oleh baik pihak industri maupun kelompok lingkungan.
Keputusan tersebut mengubah klausul 4(4)(e) Peraturan Kemasan India tahun 2018, yang secara resmi memberikan izin hukum bagi penggunaan rPET dalam aplikasi yang berkaitan dengan pengemasan, penyimpanan, pengangkutan, atau penyajian produk pangan. Izin tersebut diberikan dengan syarat kepatuhan terhadap standar teknis dan pedoman keselamatan, yang akan diterbitkan oleh FSSAI pada waktunya. Untuk saat ini, pesannya jelas: bahan daur ulang dapat dan seharusnya memiliki tempat dalam rantai pangan yang diatur.
“Hanya produk yang terbuat dari polietilen tereftalat (PET) daur ulang yang boleh digunakan untuk mengemas, menyimpan, membawa, atau menyajikan bahan pangan, sesuai dengan standar dan pedoman yang ditetapkan oleh Otoritas Pangan,” demikian bunyi peraturan yang telah direvisi tersebut.
Perubahan yang Dipertimbangkan dengan Matang
Pembaruan ini dilakukan setelah proses konsultasi yang berlangsung hampir tiga tahun, dengan draf awal diluncurkan pada Mei 2022. Selama periode tersebut, para pemangku kepentingan dari berbagai sektor daur ulang, kemasan, dan industri pangan diundang untuk memberikan masukan. Fakta bahwa India telah memilih jalur ini setelah mempertimbangkannya dengan matang, alih-alih mengikuti tren secara membabi buta, menunjukkan keseriusan negara tersebut dalam menangani reformasi lingkungan dan industri.
Dampak dari perubahan kebijakan ini jauh melampaui sekadar perubahan teknis pada redaksi peraturan. India, dengan basis konsumennya yang sangat besar dan industri pengemasan yang terus berkembang, telah mengirimkan sinyal bahwa plastik daur ulang dapat diintegrasikan kembali ke dalam perekonomian dengan aman jika dikelola dengan baik.
PET Daur Ulang dan Konteks Global
PET daur ulang sudah digunakan dalam kemasan yang aman untuk makanan di seluruh Uni Eropa dan Amerika Serikat, di mana persyaratan yang ketat serta pemantauan rantai pasokan telah menjadikannya pilihan yang layak dan terpercaya. Kualitasnya—kejernihan, ketahanan, dan sifat penghalang gas—menjadikannya pilihan yang tepat untuk minuman dan produk makanan lainnya.
Namun, yang mungkin lebih penting lagi, rPET memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan plastik murni. Dengan mengizinkan penggunaannya dalam kemasan makanan, India telah membuka jalan bagi pengurangan emisi, ketergantungan pada tempat pembuangan akhir, dan ekstraksi bahan bakar fosil—masing-masing merupakan langkah penting dalam mengatasi dampak lingkungan dari konsumerisme modern.
Apa Artinya Hal Ini bagi Sektor Daur Ulang
Perubahan ini membuka peluang yang jelas bagi infrastruktur daur ulang di India. Hal ini diperkirakan akan mendorong investasi dalam teknologi daur ulang mutakhir, terutama yang mampu menghasilkan PET berkualitas pangan dari limbah pasca-konsumen. Ketertelusuran, pengendalian kontaminan, dan validasi proses yang ketat kini akan menjadi aspek yang tidak dapat ditawar-tawar lagi bagi perusahaan yang ingin terjun ke pasar baru ini.
Namun, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Penerapan kebijakan ini sepenuhnya bergantung pada standar yang belum diumumkan oleh FSSAI. Standar tersebut akan mengatur segala hal, mulai dari batas maksimum residu bahan kimia hingga proses daur ulang yang dapat diterima. Pihak industri perlu bersabar, namun juga harus siap.
Selain itu, ada pula seruan untuk menyusun kerangka kerja pemantauan yang kokoh guna memastikan hanya rPET berkualitas tinggi yang masuk ke dalam rantai pangan. Kehadiran kontaminan, sekecil apa pun, dapat merusak kepercayaan masyarakat dan integritas seluruh sistem. Oleh karena itu, penegakan aturan dan kejelasan akan sama pentingnya dengan ambisi yang diusung.
Komitmen Lingkungan yang Lebih Luas
Langkah yang diambil India ini sejalan dengan langkah-langkah yang baru-baru ini dilakukannya dalam kerangka Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (EPR) serta Peraturan Pengelolaan Sampah Plastik yang terus berkembang. Langkah ini mengakui sebuah kenyataan yang sederhana namun sering terabaikan: tidak semua sampah kemasan itu sama, dan beberapa bahan dapat digunakan kembali dengan aman dan produktif.
Seiring meningkatnya volume sampah perkotaan dan semakin terbebani tempat pembuangan akhir oleh tumpukan plastik sekali pakai, kini lebih mendesak dari sebelumnya untuk memikirkan kembali apa saja yang seharusnya dibuang ke tempat sampah—dan apa saja yang mungkin layak mendapatkan “kehidupan kedua”.
Pandangan WasteTrade
DiWasteTrade, kami menyambut baik perkembangan ini sebagai keputusan yang bijaksana dan pragmatis. Perubahan peraturan saja tidak akan mengubah kondisi pasar, namun hal itu membuka jalan bagi peningkatan daur ulang bahan dan perdagangan yang lebih cerdas.
Kami percaya bahwa perdagangan bahan daur ulang tidak seharusnya hanya didorong oleh harga, melainkan oleh keterlacakan, kualitas, dan manfaat lingkungan. Keputusan seperti yang diambil oleh India mendorong kita semua – para pedagang, pengolah daur ulang, produsen, dan regulator – untuk meningkatkan standar kita dan menerapkan transparansi yang lebih besar dalam hal bagaimana bahan-bahan tersebut berpindah, bagaimana diproses, serta dampak apa yang ditinggalkannya.
Sebagai platform yang menghubungkan produsen limbah dan pelaku daur ulang di seluruh dunia, kami menyaksikan secara langsung bahwa akses terhadap bahan daur ulang berkualitas tinggi masih belum merata. Kebijakan yang mengakui penggunaan bahan daur ulang di sektor-sektor yang memiliki standar tinggi, seperti kemasan makanan, menyampaikan pesan yang kuat: bahwa penggunaan kembali, jika dilakukan dengan benar, bukan hanya dapat diterima—tetapi juga sangat diperlukan.
Langkah yang diambil India bukanlah solusi ajaib. Namun, ini merupakan langkah yang telah dipertimbangkan dengan matang ke arah yang benar, dan kami berharap hal ini dapat menjadi acuan bagi negara-negara lain yang masih memperdebatkan cara menyeimbangkan keselamatan dengan keberlanjutan.





